tak terasa kini sudah hampir empat tahun saya menempuh pendidikan di tempat yang menurut semua orang adalah tempat pembantaian, penuh kekerasan dan sangat tidak manusiawi.
jika memang begitu adanya, tak mungkin saya yang notabene berbadan kecil dan ringkih seperti ini dapat menempuh pendidikan yang diperuntukkan bagi orang-orang pilihan.
tapi beginilah kenyataannya, walau mungkin banyak orang tak percaya saya yang sangat berisik ini dapat masuk kedalam sebuah lembaga pendidikan yang katanya penuh kekerasan, namun nyatanya dapat membuat saya kerasan untuk terus mengikuti pendidikan di sini, dan ini adalah tahun terakhir saya belajar untuk menjadi pelayan masyarakat yang baik.
tahun pertama saya menjadi seorang praja memang dirasa sangat berat karena harus menyesuaikan diri dengan keadaan kampus yang sangat disiplin, kemudian saya dipindahkan ke riau, di riau terdapat kampus regional yang terletak di rokan hilir 7 jam perjalanan dari pekanbaru. Satu smester terlewati dengan baik di riau dan kemudian saya pindah ke kampus regional sumatera barat di baso, satu tahun saya di kampus baso-agam, saya terpilih untuk menjalani pendidikan strata 1 di jakarta selatan, dan ini sekarang sudah menuju tahun kedua saya berada di kampus jakarta, menjadi anak terpilih (katanya) ternyata juga membuat perubahan mindset, yang tadinya berpikiran pada praktek saja, kini saya mulai mendalami teori, sangat sulit untuk mengikuti pendidikan yang penuh dengan teori dengan otak yang sangat dangkal dan memiliki daya ingat yang buruk seperti saya.
Seperti mahasiswa tingkat akhir pada umumnya, saya sekarang sedang disibukkan dengan skripsi dan juga KKN( kuliah kerja nyata). Ini pertama kalinya dalam hidup saya saya tinggal bersama dengan teman tanpa pengawasan melekat dari induk semang atau orang tua asuh, dan ini membuat saya belajar untuk lebih waspada dan juga mandiri tentunya.
jika memang begitu adanya, tak mungkin saya yang notabene berbadan kecil dan ringkih seperti ini dapat menempuh pendidikan yang diperuntukkan bagi orang-orang pilihan.
tapi beginilah kenyataannya, walau mungkin banyak orang tak percaya saya yang sangat berisik ini dapat masuk kedalam sebuah lembaga pendidikan yang katanya penuh kekerasan, namun nyatanya dapat membuat saya kerasan untuk terus mengikuti pendidikan di sini, dan ini adalah tahun terakhir saya belajar untuk menjadi pelayan masyarakat yang baik.
tahun pertama saya menjadi seorang praja memang dirasa sangat berat karena harus menyesuaikan diri dengan keadaan kampus yang sangat disiplin, kemudian saya dipindahkan ke riau, di riau terdapat kampus regional yang terletak di rokan hilir 7 jam perjalanan dari pekanbaru. Satu smester terlewati dengan baik di riau dan kemudian saya pindah ke kampus regional sumatera barat di baso, satu tahun saya di kampus baso-agam, saya terpilih untuk menjalani pendidikan strata 1 di jakarta selatan, dan ini sekarang sudah menuju tahun kedua saya berada di kampus jakarta, menjadi anak terpilih (katanya) ternyata juga membuat perubahan mindset, yang tadinya berpikiran pada praktek saja, kini saya mulai mendalami teori, sangat sulit untuk mengikuti pendidikan yang penuh dengan teori dengan otak yang sangat dangkal dan memiliki daya ingat yang buruk seperti saya.
Seperti mahasiswa tingkat akhir pada umumnya, saya sekarang sedang disibukkan dengan skripsi dan juga KKN( kuliah kerja nyata). Ini pertama kalinya dalam hidup saya saya tinggal bersama dengan teman tanpa pengawasan melekat dari induk semang atau orang tua asuh, dan ini membuat saya belajar untuk lebih waspada dan juga mandiri tentunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar